Puluhan Siswa SMPN 1 Boyolangu Diduga Keracunan Program MBG, 4 Dirujuk ke RS

Tulungagung, jppos.id – 13 Oktober 2025

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur tercoreng insiden dugaan keracunan massal. Dari sekitar 1.120 siswa penerima MBG, tercatat 62 siswa mengalami gejala mual, pusing, muntah, dan lemas setelah menyantap hidangan pada Senin (13/10/2025).

Sebagian siswa sudah diperbolehkan pulang, namun empat orang harus dirujuk ke rumah sakit karena kondisinya lebih parah.

Dugaan Penyebab

Informasi awal dari pihak sekolah dan kepolisian menyebutkan, dugaan penyebab berasal dari lauk ayam bumbu kecap atau irisan tomat yang diduga tidak segar. Beberapa siswa bahkan mengaku mencium bau aneh dari makanan sebelum merasakan gejala.

Pasokan makanan diketahui tiba di sekolah sekitar pukul 07.00 WIB dan dibagikan pukul 07.30 WIB. Pergantian pengelola penyedia makanan MBG (SPPG) diduga turut menjadi faktor lemahnya pengawasan standar higienitas.

Analisis Awal Faktor Risiko

Kasus ini menunjukkan indikasi kelemahan dalam pengelolaan keamanan pangan. Beberapa faktor yang dicurigai antara lain:

  • Kontaminasi mikrobiologis (Salmonella, E. coli) akibat proses pengolahan/penyimpanan yang tidak higienis.
  • Jeda waktu lama antara masak dan konsumsi, memungkinkan pertumbuhan bakteri.
  • Higienitas rendah pada alat masak, wadah, atau tenaga penyaji.
  • Bahan makanan tidak segar atau rusak (daging ayam/tomat).
  • Kontaminasi kimia, meski lebih jarang, juga tidak bisa diabaikan.

Rekomendasi Penanganan

Agar kejadian serupa tidak terulang, beberapa langkah penting disarankan:

  1. Evakuasi & penanganan medis segera – pemeriksaan laboratorium terhadap sampel muntah dan sisa makanan.
  2. Penghentian sementara layanan MBG – atau mengganti penyedia yang memenuhi standar keamanan pangan.
  3. Pengambilan & pemeriksaan sampel makanan – serta alat penyaji dan lingkungan penyimpanan.
  4. Audit & evaluasi pengelolaan pangan – bersama dinas kesehatan dan instansi terkait.
  5. Pelatihan higienitas & sanitasi pangan – bagi seluruh pihak pengelola MBG.
  6. Transparansi hasil investigasi – kepada publik untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
  7. Monitoring rutin & inspeksi mendadak – setelah program dilanjutkan kembali.

Atensi Publik

Kasus ini mendapat perhatian luas sebagai contoh kegagalan pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG secara massal. Warga dan wali murid mendesak pihak sekolah, dinas pendidikan, dan dinas kesehatan segera turun tangan menyelesaikan persoalan.

(Sabar Eko Pramono – Kabiro Banyumas, jppos.id)


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *