Puluhan Siswa SD di Pelalawan Belajar di Kebun Sawit Pasca Penyitaan Lahan

JPPOS.ID || Pelalawan,Riau  – Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan puluhan anak-anak Sekolah Dasar (SD) belajar di atas tanah beralas terpal di tengah kebun sawit. Mereka adalah murid baru asal Dusun Toro Jaya, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

Kondisi ini terjadi menyusul penyitaan lahan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) beberapa waktu lalu. Lahan yang sebelumnya digarap warga, termasuk area Dusun Toro Jaya, dinyatakan sebagai bagian dari kawasan TNTN. Pemerintah melalui Satgas PKH meminta warga untuk melakukan relokasi mandiri. Namun, banyak warga menolak dengan alasan bahwa lahan tersebut mereka beli secara sah, sehingga hingga kini ribuan warga masih bertahan.

Juru Bicara Warga TNTN, Abdul Aziz, membenarkan bahwa video yang beredar tersebut memperlihatkan siswa baru SD dari dusun tersebut.

“Anak-anak dalam video itu adalah siswa baru sekolah dasar, jumlahnya ada 58 orang. Itu hari pertama mereka masuk sekolah, tapi terpaksa belajar di kebun sawit, beralas terpal, karena tidak ada tempat lain,” ujar Aziz saat dikonfirmasi, Selasa (15/7/2025).

Aziz menjelaskan, anak-anak tersebut awalnya direncanakan bersekolah di SD 20 Dusun Toro Jaya. Namun, sejak lahan sekolah disita dan masuk kawasan TNTN, sekolah tersebut dilarang menerima murid baru. Sementara siswa kelas dua hingga enam masih diperbolehkan melanjutkan kegiatan belajar, dengan total 455 siswa yang terbagi dalam 10 rombongan belajar.

SD 20 sendiri merupakan sekolah kelas jauh dari SD Negeri 003 Desa Lubuk Kembang Bunga dan baru diresmikan sebagai sekolah negeri pada September 2024 lalu.

“Setelah penyitaan, orang tua diminta menyekolahkan anak ke sekolah induk yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan. Tapi jelas tidak mungkin, karena terlalu jauh dan sulit dijangkau,” ungkapnya.

Karena keterbatasan itu, warga berinisiatif membangun tenda darurat dari terpal plastik di luar kawasan TNTN agar anak-anak tetap bisa belajar. Para orang tua juga meminta bantuan kepada seorang guru untuk mengajar secara sukarela.

“Anak-anak sangat antusias ingin bersekolah. Orang tua pun meminta tolong kepada seorang guru untuk mengajar secara sukarela. Tapi tetap saja kondisinya sangat memprihatinkan,” tambah Aziz.

Situasi ini memicu keprihatinan mendalam di kalangan orang tua. Banyak dari mereka menangis melihat anak-anak belajar dalam kondisi yang tidak layak.

“Ibu-ibu banyak yang menangis melihat anak-anak mereka seperti ini. Rasanya seperti hidup di zona perang. Tidak ada solusi, tidak ada toleransi dari pemerintah. Warga dibiarkan mencari solusi sendiri,” tegas Aziz.

Pada hari pertama masuk sekolah, para guru berusaha memberikan pemahaman kepada siswa mengenai situasi yang mereka hadapi. Namun, banyak anak-anak yang menangis karena tidak mengerti kenapa harus belajar di kebun sawit.

Untuk hari kedua, warga berinisiatif memindahkan kegiatan belajar ke sebuah mushala di luar kawasan TNTN.

“Alhamdulillah, hari ini sudah dapat mushala untuk tempat belajar. Yang penting berada di luar kawasan TNTN, supaya tidak dibubarkan,” pungkas Aziz.(J Ginting)


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *