JPPOS .ID || BENGKULU SELUMA – Di antara deretan pepohonan dan lalu lalang kendaraan di pintu masuk Kabupaten Seluma, berdirilah SD Negeri 13. Sekilas, bangunan sekolah itu tampak biasa saja, tapi begitu melangkah masuk ke dalam, kenyataan memukul keras: dinding yang kusam, plafon yang bolong, dan ruang belajar yang sejatinya tak layak disebut ruang kelas.
Di salah satu sudut sekolah, anak-anak duduk serius belajar, tapi ruang yang mereka tempati dulunya bukanlah kelas, itu bekas perpustakaan—sekarang beralih fungsi karena ruang utama sudah tak bisa dipakai, sementara di sisi lain, ada juga kelas yang menumpang di gedung bekas taman kanak-kanak.
“Plafonnya bolong, dindingnya retak-retak. Tapi karena tak ada pilihan, tetap kami pakai,” tutur Suhirmanudin, Kepala SDN 13 Seluma, Kamis (8/5/2025).
Sekolah ini menampung 167 siswa, namun hanya ada satu toilet—itu pun milik guru, WC siswa sudah lama rusak, jadi setiap hari, siswa dan guru bergantian menggunakan kamar kecil yang sama.
“Kalau dihitung idealnya, satu WC untuk 50 siswa. Di sini, satu WC untuk semuanya,” katanya.
Kondisi itu tentu menyulitkan. Bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga kebersihan dan kesehatan, anak-anak usia sekolah dasar, yang seharusnya belajar dengan tenang, justru harus menahan buang air karena antrean panjang di satu-satunya kamar kecil.
Keterbatasan tak berhenti di situ. Sebelum ada bantuan mebeler datang, banyak siswa duduk langsung di lantai, meja belajar pun dibuat seadanya oleh pihak sekolah.
“Mejanya kami buat sendiri, yang penting anak-anak jangan nulis di lantai lagi,” ujar Suhirmanudin, sambil menunjukkan meja hasil karya guru-guru.
Selama hampir dua tahun, pemandangan seperti itu menjadi hal biasa di SDN 13, Sekolah yang mestinya menjadi ruang harapan, justru menjelma menjadi simbol keterbatasan.
Pembangunan terakhir tercatat pada 2016, hanya sebatas rehab ruang kepala sekolah, gedung baru lainnya bahkan dibangun lebih dari sepuluh tahun lalu, sejak itu, nyaris tak ada sentuhan dari pemerintah.
Padahal, sekolah ini berada di lokasi strategis—pintu gerbang masuk ke kabupaten, seharusnya, ia menjadi wajah pendidikan Seluma, tapi wajah itu kini kusam, layu, dan penuh luka.
“Kalau bisa, pemerintah datanglah ke sini, lihat sendiri kondisinya, kami butuh bantuan untuk membangun kembali semangat belajar anak-anak,” harap Suhirmanudin.
SDN 13 Seluma bukan sekadar sekolah, namun merupakan simbol, tentang bagaimana anak-anak tetap berjuang di tengah kekurangan, tentang bagaimana para guru bertahan dengan harapan yang belum tentu datang. Dan tentang bagaimana negara, kadang terlalu jauh dari ruang-ruang kelas seperti ini.
(Heno)







