Jaringan Sering lelet dan Prasarana Kurang Mendukung, Aplikasi Satu Cerdas Penggunaannya Kurang Maksimal

JPPOS.ID || BENGKULU SELUMA – Pemanfaatan aplikasi SATU Cerdas di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Seluma belum berjalan maksimal. Selain kendala jaringan, keterbatasan sarana prasarana menjadi hambatan utama dalam implementasi program digital tersebut.

Kepala SDN 101 Seluma, Lidiana, mengatakan bahwa sejauh ini aplikasi SATU Cerdas baru dimanfaatkan untuk kebutuhan absensi guru. Sistem absensi berbasis aplikasi dinilai cukup membantu karena dapat dilakukan dari mana saja, namun kerap terkendala gangguan teknis.

“Kadang aplikasinya sudah siap, tapi saat digunakan untuk absen malah nge-lag. Pernah kejadian absen jam 7 pagi, tapi karena gangguan, tercatat seperti absen pulang di jam yang sama,” ujar Lidiana, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, penggunaan aplikasi tersebut di sekolahnya masih terbatas pada guru. Sementara untuk siswa, penerapan belum dilakukan karena masih menunggu kesiapan tenaga pendidik.

“Untuk siswa belum. Kami fokuskan dulu ke guru sampai benar-benar paham penggunaan aplikasi ini. Kalau sudah maksimal, baru akan diterapkan ke siswa,” jelasnya.

Namun demikian, rencana penerapan SATU Cerdas bagi siswa menuai kekhawatiran. Lidiana menilai, kewajiban membawa ponsel ke sekolah berpotensi mengganggu konsentrasi belajar siswa.

“Anak-anak sekarang lebih banyak bermain daripada belajar di rumah. Kalau di sekolah juga diwajibkan bawa HP, kami khawatir mereka tidak fokus belajar,” katanya.

Sebagai solusi, pihak sekolah mengusulkan penyediaan perangkat bersama seperti Chromebook atau laptop yang dapat digunakan secara kolektif di lingkungan sekolah.

“Kalau ada fasilitas seperti Chromebook atau laptop, itu lebih efektif. Bisa digunakan bersama untuk aplikasi SATU Cerdas maupun kegiatan lain seperti TKA dan ANBK,” ujarnya.

Namun, hingga saat ini SDN 101 Seluma belum memiliki fasilitas tersebut. Bahkan, perangkat yang tersedia masih sangat terbatas dan sebagian dalam kondisi rusak.

“Laptop yang ada hanya sekitar empat unit, itu pun tidak semuanya layak pakai. Jadi belum bisa digunakan untuk siswa,” ungkapnya.

Lidiana menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah sekolah lain di wilayah Seluma. Bahkan, masih ada sekolah yang belum menggunakan aplikasi SATU Cerdas dan masih menerapkan sistem manual.

“Kalau di luar wilayah tertentu, mungkin sekitar 50 persen sudah menggunakan. Tapi masih banyak juga yang belum,” katanya.

Dari sisi pendanaan, Lidiana menjelaskan bahwa pada tahun 2024 aplikasi SATU Cerdas dibiayai melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun sejak 2025, pembiayaan dialihkan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Seluma atas kebijakan pemerintah daerah.

“Sekarang pembiayaan dari APBD melalui Dinas Pendidikan, sesuai program yang diarahkan oleh bupati,” jelasnya.

Ia berharap ke depan pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih, khususnya dalam bentuk bantuan perangkat teknologi untuk menunjang proses pembelajaran berbasis digital di sekolah.

“Mudah-mudahan ke depan kami bisa mendapatkan bantuan perangkat seperti laptop atau Chromebook agar pelaksanaan program ini bisa lebih optimal,” tutup Lidiana.

Heno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *