JPPOS.ID || BENGKULU SELUMA — Potensi hutan bukan hanya soal kayu. Di Desa Sinar Pagi, Kecamatan Seluma Utara, Kabupaten Seluma, kopi justru jadi primadona. Lewat produk andalan bernama Kopi Seghut, masyarakat desa membuktikan bahwa hasil bumi lokal mampu bersaing di pasar modern.
Kopi Seghut merupakan kopi robusta murni yang diproduksi oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Kopi Hutan Karya, sebuah kelompok tani yang mengelola kawasan hutan seluas 915 hektare melalui skema Perhutanan Sosial. Program ini didampingi oleh Earthqualizer dan AEP Group, yang selama ini aktif membina petani dalam hal budidaya kopi, pengolahan pasca panen, hingga strategi pemasaran.
“Ini bukan sekedar kopi, tapi hasil gotong royong masyarakat yang dulu hanya menjual biji mentah. Sekarang kami punya merek sendiri, kemasan sendiri, dan siap bersaing,” ujar Riki Ricardo, Kepala Desa Sinar Pagi.
Kopi Seghut dikemas dalam ukuran 250 gram dengan harga jual sekitar Rp60.000 per bungkus. Rasanya khas, kuat, dengan karakter robusta yang pekat dan aroma alami dari dataran tinggi Seluma.
Produk ini mulai dipasarkan ke berbagai titik, dari lokal Seluma dan Bengkulu, hingga mulai dirintis untuk masuk pasar nasional dan bahkan ekspor. Seiring dengan itu, harga kopi robusta di Seluma pun cukup menggembirakan—tercatat berada di angka Rp63.000 per kilogram pada pertengahan 2025.
Tak hanya soal kopi, program pendampingan juga menyentuh aspek kehidupan lainnya, seperti pembangunan sarana air bersih yang sangat dibutuhkan masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa perhutanan sosial tak hanya soal izin kelola, tapi juga soal perubahan nyata di tingkat desa.
“Dulu kopi hanya jadi sumber tambahan, sekarang menjadi sumber utama ekonomi keluarga,” tambahnya.
Kini, dengan nama Kopi Seghut, Desa Sinar Pagi tidak hanya dikenal sebagai desa di lereng hutan, tapi juga sebagai penghasil kopi berkualitas yang sedang naik daun. (Heno)







