Miris, Perumahan Karyawan PTP N 7 Padang Pelawi Jauh Dari kata layak Huni.

JPPOS.ID || BENGKULU SELUMA – Di balik kejayaan produksi perkebunan PTPN 7 di Desa Padang Pelawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, tersembunyi potret getir kehidupan para pekerjanya.

 

Rumah-rumah yang menjadi tempat berlindung mereka kini nyaris begitu memprihatinkan, dan ironisnya, nyaris tanpa perhatian dari manajemen perusahaan.

 

Salah satu pekerja yang sudah lebih dari satu dekade mengabdi di PTPN 7, yang meminta namanya dirahasiakan, membagikan kisah pilunya. Ia menempati salah satu unit perumahan perusahaan itu sejak setahun terakhir.

 

“Kalau mau dibilang, sudah lama saya bekerja di sini, tapi untuk tinggal di perumahan ini baru sekitar satu tahun lebih,” katanya saat ditemui pada Senin malam, 28 April 2025.

 

Kondisi rumah yang ia tempati jauh dari layak huni. Plafon-plafon mengelupas dan berlubang di berbagai sudut, atap seng bocor parah, lantai semen kasar, sementara dinding dari tripleks tipis retak di sana-sini, nyaris roboh.

 

“Kalau hujan, ya bocor, Pak. Air masuk ke dalam rumah, harus ditampung pakai ember,” ungkapnya.

 

Bukan hanya atap, dinding pun menjadi ancaman tersendiri. Dengan suara lirih, ia menunjukkan retakan yang menganga di sana-sini. “Kalau didorong sedikit, saya jamin langsung roboh ini, Pak,” tambahnya.

 

Sanitasi pun tidak jauh lebih baik. Meski PTPN 7 menyediakan kamar mandi, kualitasnya seadanya: terbuat dari semen kasar tanpa keramik, tanpa kelengkapan yang memadai. Sementara sumber air sehari-hari berasal dari sumur.

 

Beruntung, kualitas air masih tergolong layak untuk konsumsi. “Airnya bagus, Pak, bisa untuk makan, minum, dan mandi,” katanya.

 

Untuk semua jerih payah itu, ia menerima penghasilan sekitar dua juta rupiah per bulan, bekerja di PTPN 7. “Cukup enggak cukup, ya harus cukup, Pak,” ujarnya, setengah berkelakar getir.

Kami disini kalau mau menempati rumah ini kalau rusak bahkan bocor, kami harus memperbaiki sendiri pake uang pribadi, seperti yang ada rumah dibelakang ini ,mengalami kebocoran, ya ia memperbaiki sendiri dengan mengganti seng menggunakan uang pribadi,” ungkapnya lagi (salah satu karyawan yang enggan disebutkan namanya).

 

Lebih dari itu, selama menghuni perumahan PTPN 7, tak pernah ada satu pun perhatian nyata dari pihak manajemen. “Belum pernah ada dari kantor yang survei atau berjanji mau memperbaiki,” ungkapnya.

 

Harapannya sederhana: rumah layak untuk dihuni bersama anak dan istri. Ia mengutarakan suara hati banyak pekerja yang sebenarnya menjadi tulang punggung operasional PTPN 7.

 

“Kalau bisa, tolong perbaikilah, Pak. Kami ini loh, yang menjalankan perusahaan, masa tempat tinggal kami seperti ini,” ujarnya.

 

Mirisnya, bukan hanya satu rumah yang mengalami kondisi demikian sebagian besar perumahan pekerja di Padang Pelawi juga berada dalam keadaan serupa: usang, lapuk, dan plafon yang mengelupas di sana-sini.

 

“Kalo tempat saya ini masih lumayan bagus lah pak. Coba lihat rumah yang di depan itu, itu WC-nya malah nggak ada,” kata pekerja yang lain.

 

Ironisnya, meskipun para pekerja memiliki niat untuk mengusulkan perbaikan rumah mereka, rasa takut justru membungkam harapan tersebut.

 

Mereka khawatir, suara mereka akan dianggap sebagai masalah, bahkan berpotensi mengancam pekerjaan yang sudah mereka pertahankan dengan susah payah selama ini.

 

Di tengah ketidakpastian ini, mereka memilih untuk tetap diam, bertahan dalam kondisi rumah yang jauh dari kata layak, daripada mempertaruhkan pekerjaan yang menjadi sumber penghidupan mereka.

 

Melihat kondisi perumahan pekerja PTPN 7 di Padang Pelawi, muncul satu pertanyaan besar: ke mana sebenarnya program CSR perusahaan ini?

 

Sebagai BUMN, PTPN 7 punya tanggung jawab sosial, bukan hanya untuk masyarakat luar, tapi terlebih dulu untuk para pekerjanya sendiri. Nyatanya, rumah-rumah tempat tinggal karyawan justru lapuk, bocor, dan nyaris roboh, tanpa ada perhatian nyata dari manajemen.

 

Padahal, memperbaiki fasilitas perumahan bukan sekadar soal estetika. Ini tentang penghormatan terhadap keringat para pekerja yang membesarkan perusahaan.

 

Jika kebutuhan dasar seperti tempat tinggal layak saja diabaikan, lantas bagaimana dengan tanggung jawab sosial perusahaan yang seharusnya dijalankan?

 

Pihak redaksi telah berupaya menghubungi Sindum PTPN 7 untuk meminta keterangan terkait kondisi perumahan pekerja. Namun, hingga berita ini dipublikasikan,

belum ada respons yang diberikan.

(Heno).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *